Categories
Parenting

Membuat Kerajinan Daur Ulang

Berawal dari rasa “sayang” pada barang bekas, akhirnya ibu rumah tangga yang satu ini, Tri Sugiarti (39), meraih berbagai prestasi. Kala itu, Tri melihat banyak sekali buku LKS (Lembar Kerja Siswa) miliknya anaknya yang sudah tak terpakai dan dibiarkan begitu saja. Sayang sekali jika dibuang, batinnya. Ibu dari Aras Fitranto (15) dan Lola Narulita (13) ini pun berpikir untuk me-recycle atau mendaur ulang.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

“Kebetulan, saya mendapat kesempatan ikut pelatihan membuat kerajinan dari daur ulang kertas di kecamatan,” ucap Tri. Tak mau melepas kesempatan, Tri pun mengikuti pelatihan tersebut. Usai pelatihan, Tri mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk ikut membuat kerajinan dari kertas bekas. “Daripada nge-gosip, mending melakukan aktivitas positif,” ujar istri dari Edi Purnomo (45) ini. Bermodal pinjaman uang kas RT sebesar 300 ribu rupiah, Tri bersama ibu-ibu lain mulai membangun usaha. “Awalnya mereka semangat, tapi baru sebulan berjalan, satu per satu mengundurkan diri,” kenang Tri.

Penyebabnya, proses pembuatan kerajinan memakan waktu lama. Kertas harus direndam sekitar 20 menit, lalu ditiriskan selama 12 jam di tempat lembap, tidak boleh di bawah sinar matahari, karena kalau kering tidak bisa diproses, harus dibasahi lagi. “Proses pembentukan pun harus dilakukan satu per satu, memakan waktu sangat lama,” jelas Tri. Meski hanya tinggal beberapa orang, Tri tak mau patah arang, karena ia harus mengembalikan modal yang dipinjamnya.

“Saya putar otak, browsing di internet, lalu ketemu proses pembuatan yang lebih mudah. Koran dilinting pakai bambu, dipipihkan, lalu digulung menggunakan pipa dan dirangkai menjadi kerajinan yang kita inginkan, seperti: stoples, vas bunga, tempat pensil, dan lainnya. Pengerjaannya lebih cepat, karena tidak perlu dibasahi dan dijemur. Sekarang sudah ada sekitar 30 jenis kerajinan yang kami buat,” papar Tri.

Berlepotan Di Wajah

“Waktu usia 4 bulan, Danen pernah pilek dan batuk yang tak kunjung sembuh hingga dua minggu. Tentu saya geregetan melihatnya, apalagi ketika ingusnya meler dan sese kali bergelembung. Belum lagi ketika ia mengucekngucek hidungnya dan membuat ingusnya berlepotan ke seluruh wajahnya. Bahkan, hal itu itu pernah terjadi ketika kami sedang makan di luar dan ada orang yang melihat ‘anen mengucek-ngucek hidungnya yang mengeluarkan ingus. Saat itu saya takut sekali orang tersebut menjadi mual melihat kelakuan anak saya.”

Sumber : https://eduvita.org/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *