Categories
Parenting

Benarkah Generasi Net, Generasi Manja Dan Pemalas?

Siakan Mama Papa menilai sendiri, setelah membaca fakta-fakta di bawah ini: GENERASI “PEMALAS”? Berdasarkan survei 2004 terkait para lulusan sarjana baru yang memasuki dunia kerja, ternyata para Generasi Net lebih mengutamakan ingin bekerja cepat dan lebih bagus dari teman-temannya.

Baca juga : ausbildung jerman

Generasi ini ingin menunjukkan kehebatan dan kontribusi terbaiknya bagi perusahaan. Begitu pula di dunia pendidikan, mereka tidak lagi jadi anak-anak yang mudah diperintah untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah atau pekerjaan rumah rutin. Para orangtua menilai mereka adalah anak-anak yang “malas”. Padahal, mereka ingin lebih dulu mendapatkan alasan “mengapa” harus mengerjakan tugas tersebut, dan apa manfaat atau nilai tambah bagi dirinya jika tugas tersebut dikerjakan. GENERASI SERBA INSTAN? Anak-anak Generasi Net dibesarkan sebagai “pengguna” perangkat teknologi yang mengutamakan kecepatan dan terdepan/kekinian.

Oleh karena itu, konsep berbelanja dengan memasuki toko yang satu ke toko lainnya, seperti yang dilakukan para orangtua, dianggap tidak masuk akal serta buang-buang waktu dan tenaga, mengingat mereka dengan perilaku belanja online-nya. Selain itu, mereka terkondisi mencari informasi hanya dengan memencet satu tombol karena adanya TV kabel, atau handphone yang canggih. Jadi, perilaku instan ini sebenarnya dikarenakan “buaian” kemajuan teknologi yang tidak memikirkan dampak terkikisnya proses belajar anakanak Generasi Net dalam mencari “makna” di balik sebuah proses.

GENERASI “SELFISH”? Generasi Net dikondisikan menjadi “pusat perhatian keluarga” yang selalu dipenuhi kebutuhankebutuhannya tanpa harus menunggu lama. Sementara generasi-generasi sebelumnya, justru cenderung diajak terlibat/berkontribusi membantu keluarga. Dengan demikian Generasi Net pun terbentuk menjadi tidak terlalu terbiasa peduli atau peka terhadap kebutuhan anggota keluarga lain. GENERASI “MANJA”? Begitu banyak kebutuhan di rumah maupun di sekolah dipermudah dengan sistem sehingga tidak perlu “capek-capek” mengantri terlalu lama. Le bih lanjut, saat mereka ada di pelayanan publik, contoh di restoran, toko buku, toko mainan, akan ada pihak-pihak yang memberi bantuan prima dan memperlakukan mereka sebagai raja. Hal ini membuat membuat mereka dibesarkan dengan nilai-nilai yang membuat harga dirinya menjadi tinggi.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *